Barangkali lima tahun lalu, seorang pria datang dan menawarkan kehidupan yang sangat baik untukku, yang aku yakin, jika wanita lain yang mendapatkan tawaran itu, mereka akan sulit untuk menolaknya: dia sangat rupawan dan sangat kaya raya. Pada pertemuan kami yang kedua, dia menawarkan sebuah mobil mewah keluaran terbaru. Tanpa basa basi, dia menyebutkan sebuah merk dan aku disuruh memilih warnanya. Saat itu aku masih seorang karyawan biasa, tidak punya mobil pribadi, hanya ada mobil dan supir kantor di kala siang.
Dia menanyakan satu hal kepadaku, sesuatu yang sesungguhnya sederhana tetapi membuatku tersinggung. Tanyanya, "Aku mencari seorang istri, apakah kau bisa memasak dan mendidik anak-anak? Aku sibuk, aku perlu seseorang yang sabar dan mau untuk tidak menggangguku di saat aku bekerja. Aku juga egois, aku sangat menghargai privasi."
Aku tersenyum mendengarnya. Soal memasak, tentu aku menguasainya. Meski aku tak pernah mengumbar, tetapi kalau itu merupakan sesuatu yang rumit dan patut dibanggakan, memasak rendang atau ayam betutu bahkan ku kuasai di luar kepala. Perkara mendidik anak, aku akan berkiblat pada ibuku tentu saja. Sejauh ini ku rasa, setidaknya ibuku tidak membuatku tumbuh sebagai perempuan yang mudah menyerah, aku pemberani dan mandiri. Hanya dengan keberanian dan kemandirian seorang wanita bisa menjadi ratu di kehidupannya, bukan hanya sekedar pion.
Sayangnya, aku memilih tidak terlahir hanya untuk sekedar memasak. Lagipula soal sibuk saat bekerja itu, haha, bolehkah aku tertawa? Aku juga sibuk, tapi aku tetap sempat menanyakan kabar kekasihku. Ini hanya soal prioritas. Egois dan privasi, apa itu? Itu tidak ada dalam kamus percintaan. Kau tidak bisa tidur telanjang dengan seseorang yang tidak kau ketahui kode keamaan androidnya.
Barangkali dari hal seperti itulah kehidupan yang mengerikan untuk wanita dimulai: suatu hari nanti kau juga terpaksa harus berselingkuh dari suamimu agar tak gila, tetapi tetap tidak berani meninggalkannya. Perlahan-lahan, dunia akan memaksamu untuk terus berbohong, atau kau akan dituding melakukan kesalahan besar yang memang benar telah kau lakukan, tanpa mau dipertimbangkan apa alasan kau melakukannya.
Ku katakan padanya, daripada menjadi istrinya sebaiknya aku bekerja saja. Dia, carilah seorang perempuan yang bermental penjilat untuk diperistri, dan itu pasti bukan aku.
Dia terbelalak, tidak percaya dengan sebuah kesempatan luar biasa yang sudah ku tolak. Dia mengejarku dengan sinisme, "sampai kapan kau akan pergi bekerja? Apa yang ingin kau beli dari uang gaji pekerjaanmu?"
Aku diam saja, tetapi tidak berubah pikiran. Ketika itu, aku sendiri tidak tahu mengapa aku harus tetap bekerja sedangkan ada kesempatan untuk hidup dengan tenang tanpa perlu aku bersusah payah. Berpuluh tahun gajiku tentu tidak akan bisa membeli mobil dengan merk yang baru saja ku tolak, meskipun itu dengan jasa kredit. Tapi entah mengapa, mendengar nada bicaranya aku meyakini, yang tengah ku hadapi adalah sebuah peniadaan terselubung atas kemampuan dan keberadaan perempuan. Aku tidak mau masuk perangkap: tidak bisa tidur sepanjang malam karena merasa tidak berhak untuk mengetahui dia di mana, sedangkan untuk berpisah dengannya aku tak sanggup karena sudah terlanjur takut kehilangan kemewahan. Ya Tuhan, membayangkannya saja aku tidak sudi. Hidup bagiku lebih dari sekedar apa kata orang. Hidupku adalah hidupku, hal buruk yang keluar dari mulut orang lain tidak pernah membunuhku, juga decak kagum dari mereka juga tak pernah membuatku bahagia.
Wanita lain boleh saja menerimanya, hidup kaya raya tanpa perlu bekerja itu bagus. Ada orang yang bahagia dengan sesuatu yang bersifat kebendaan, dan tidak perduli dengan sikap saling menghargai dan kesetaraan gender. Tapi bukan itu yang ku pilih. Aku salah satu wanita yang terlahir beruntung dan aku mensyukurinya, meskipun sederhana tetapi aku masih punya kemampuan untuk sekedar makan dan orang tuaku tidak tengah terlilit utang hingga aku harus menjual hidupku demi uang. Setelah penolakan itu, dia menjauhiku, pun aku menjauhinya. Dia menganggapku sombong karena tak bisa diatur, aku pun demikian. Aku tidak pernah menyukai orang yang berusaha membeli setir pemikiranku.
Belakangan ku ketahui jawabannya, aku hanya akan berhenti hingga aku bangga pada diriku sendiri.
Dan sesuatu yang bersifat materi, apalagi jika itu hanyalah pemberian, bukanlah kebanggaanku. Tentu aku menghargai hadiah, ku anggap itu sebagai bentuk kasih sayang seseorang yang bisa kau lihat dan kau kenang. Seumur hidupku, aku pun menerima banyak hadiah. Ku ucapkan terimakasih dan selalu ku pakai di hadapan pemberinya karena aku sangat menghargai itu, tetapi tidak jika harus dibayar dengan kemunduran mental.
Aku melupakannya setelah itu, tapi sepertinya dia tidak. Dia mengawasiku, yang aku tahu dari beberapa moment kemunculannya dalam beberapa tahun ke belakang ini hanyalah: dia menunggu aku ambruk, agar dia bisa diterima. Entah darimana dia mengetahuinya, setiap kali aku tengah dalam kondisi rumit, dia akan menelpon dan menawarkan bantuan. Sayangnya tidak, aku tidak pernah memerlukannya. Hidup memang tidak mudah, dalam beberapa waktu bahkan berjalan dengan sangat sulit. Tapi wanita harus tumbuh seperti pohon yang berakar kuat agar tak perlu takut meskipun ada badai. Jika akarmu kuat, kau tidak akan tumbang. Kau akan terus hidup.
Beberapa waktu yang lalu, dia menghubungiku lagi, sekali ini dengan gamblang memintaku untuk menikah dengannya. Mungkin dia bosan menungguku menderita agar dia dicari, karena ternyata itu tidak akan pernah. Ku katakan ini bukan karena aku sombong, tapi justru karena aku percaya Tuhan. Semua akan terasa baik jika kau meyakini bahwa itu baik: tidak ada alasan untuk mengeluh selama kau berprasangka baik pada doa-doa.
Sekali ini, dia tidak menanyakan apapun padaku kecuali apakah aku mau hidup dengannya. Barangkali, selama bertahun-tahun mengikutiku, dia sudah melihat semua: wanita zaman now itu tidak tolol. Wanita tidak dilahirkan untuk hanya sekedar "menanti". Persoalan lingkar kehidupan perempuan, aku tidak membidik ruangnya, tetapi titik pengembangan dirinya. Bahkan jika seorang wanita pergi untuk menjadi asisten rumah tangga sekali pun, itulah kelebihan perempuan: mereka mampu menjadi lebih dari sekedar pengurus rumah tangga mereka sendiri. Mereka membantu orang-orang. Mereka bermanfaat bagi masyarakat luas dalam artian yang sebenarnya.
Kemandirian perempuan, sekecil apa pun itu, akan berdampak besar pada keberaniannya dalam membela dirinya ketika diperlakukan tidak adil oleh gender yang lain.
Wanita tidak ubahnya seperti pria, kami berperan penting dan hak suara kita adalah sama. Dalam beberapa hal, wanita bahkan jauh lebih unggul. Banyak perang besar terjadi karena wanita, sejauh ini tidak pernah ada perang karena memperebutkan pria. Yang ada hanyalah saling jambak, dan itu memalukan, sudah sangat jarang terjadi di masa sekarang pasca feminisme merebak. Sama seperti handphone, pria yang rusak tinggal diganti. Hanya wanita yang tidak "tidak mampu" yang mau bersusah payah memperbaikinya.
Giliranku untuk angkat bicara setelah lima tahun aku diam. Ku tanyakan, "aku memiliki semua hal yang kau inginkan dalam hidupmu: kecantikan, loyalitas, tanggung-jawab, dan pemikiran yang baik. Aku mencari seseorang yang sama denganku, setara, dia berbakti padaku sebagaimana aku berbakti padanya. Aku berhak mengendalikan hidupnya sebagaimana dia berhak atas hidupku. Aku ingin didengar, aku ingin peraturanku dipatuhi karena aku tidak akan mempertimbangkan apapun selain kebaikan dan kejujuran. Aku ingin memegang semua kendali keuangan karena aku yakin, aku lebih berpengalaman dalam hal itu. Apakah kau sanggup hidup seperti itu?"
Kali ini, dia yang diam. Mungkin dia tahu jawabannya adalah: dia tidak sanggup hidup seperti itu. Karena bersikap adil bukanlah bagian dari dirinya, dan membeli sesuatu adalah kebiasaannya. Harusnya dia bisa sinis kepadaku seperti dulu, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Bertahun mengikutiku dia tentu menyadari, bahwa loyalitas bukanlah sesuatu yang bisa ditukar dengan materi. Tidak bisa, terbukti bahwa dia tidak pernah mampu membayarnya, dulu dan sekarang.
Aku kembali melupakannya, dan dia masih sama seperti yang dulu: tidak berhenti mengikutiku. Setiap kali membaca postingannya tentang kesuksesan hidup, aku tersenyum. Ada beberapa orang yang hidupnya tidak pernah sulit karena mereka bermain di zona aman. Mereka pikir mereka itu berhasil, padahal tidak. Mereka bisa membeli teropong terbaik untuk melihat puncak gunung, atau menaiki heli untuk mencapai puncaknya. Tetapi apakah mereka menaklukkan gunung itu? Tidak.
Lelaki seperti ini, jangan pernah mencintainya. Bahkan untuk sekedar memberimu pelajaran dalam hidup pun, mereka tidak pernah pantas.
Karena selain uangnya, mereka tidak bernilai.
--
-
It’s not selfish to love yourself, take care of yourself, and to make your happiness a priority. It’s necessary.
••••••(Copy from Pratiwi Juliani)••••••