Minggu, 20 Maret 2016

Ketika Cinta Sedang Bercakap


“Kamu sedang apa?” “Bersyukur, untuk malam yang mempertemukan rinduku padamu. Kalau kamu sedang apa?”
“Masih sama seperti kemarin, menunggumu untuk dicintai.” “Apa kamu yakin siap menunggu?”
“Ya, Rindu yang mengajariku arti kesabaran. Dan cinta yang membuatku kuat bertahan.” “Bagaimana jika aku tak pernah pulang?”
“Kamu jahat. Sudah membuang rindu sembarangan, dan tak memungutnya kembali. Kamu tahu, aku sudah cukup lama menjaganya sendirian?” “Ya. Aku tahu. Kamu tak perlu khawatir karena aku sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Maukah kamu menyiapkan rindu itu tepat ketika aku sampai nanti?”
“Kapan kamu tiba? Bagaimana jika kedatangamu serupa angin yang terbang tak pernah henti. Mungkin kamu tak akan benar-benar kembali.” “Aku mungkin tersesat dalam perjalanan. Tapi yakinlah, setiap doa yang kamu kirimkan, telah menjadi mata angin yang menunjukkan jalan pulang kepadamu.”
“Kamu tahu isi doaku?” “Aku selalu tahu. Di sebelah ruang hatiku, cintamu berdiam. Kudengar kamu menyebut namaku berkali-kali.”
“Tentu. Karena aku rindu…” “Maka jangan putus asa. Tunggu aku. Kamu satu-satunya yang kucinta…”
-Jika Hujan Pernah Bertanya, Robin Wijaya.