Jumat, 28 November 2014

Kisah Setangkai Bunga Lily

Sebuah Cerita Inspiratif yang saya pernah baca dari Buku nya Andrie Wongso

Dikisahkan, di tepian tebing yang terjal, tumbuhlah setangkai tunas bunga lily. Saat tunas bunga lily mulai bertumbuh, dia tampak seperti sebatang rumput biasa. Tetapi, dia mempunyai keyakinan yang kuat, bahwa kelak dia pasti akan tumbuh menjadi sekuntum bunga lily yang indah.

Rumput-rumput liar di sekitarnya mengejek dan menertawakannya. Burung-burung dan serangga pun menasihatinya agar tunas lily jangan bermimpi menjadi bunga. Mereka pun berkata, "Hai tunas muda, sekalipun kamu bisa mekar menjadi kuntum bunga lily yang cantik, tetapi lihatlah sekitarmu. Di tebing yang terpencil ini, biarpun secantik apa pun dirimu kelak, tidak ada orang yang akan datang melihat dan menikmati keindahanmu."

Diejek seperti itu, tunas bunga lily tetap diam dan semakin rajin menyerap air dan sinar matahari agar akar dan batangnya bertumbuh kuat. Akhirnya, suatu pagi di musim semi, saatnya kuncup pertama pun mulai bertumbuh. Bunga lily merasa senang sekali. Usaha dan kerja kerasnya tidak sia-sia. Hal itu menambah keyakinan dan kepercayaan dirinya.

Dia berkata kepada dirinya sendiri, "Aku akan mekar menjadi sekuntum bunga lily yang indah. Kewajibanku sebagai bunga adalah mekar dan berbunga. Tidak peduli apakah ada orang yang akan melihat atau menikmati keberadaanku. Aku tetap harus mekar dan berbunga sesuai dengan identitasku sebagai bunga lily."

Hari demi hari, waktu terus berjalan. Akhirnya, kuncup bunga lily pun mekar berkembang-tampak indah dan putih warnanya. Saat itulah, rumput liar, burung-burung, dan serangga tidak berani lagi mengejek dan menertawakan si bunga lily.

Bunga lily pun tetap rajin memperkuat akar dan bertumbuh terus. Dari satu kuntum menjadi dua kuntum, berkembang lagi, terus dan terus berkembang, semakin banyak. Sehingga jika dilihat dari kejauhan, tebing pun seolah diselimuti oleh hamparan putih bunga-bunga lily yang indah. Orang-orang dari kota maupun desa, mulai berdatangan untuk menikmati keindahan permadani putih bunga lily. Dan tempat itu pun kemudian terkenal dengan sebutan "Tebing Bunga Lily."

Para pembaca yang berbahagia,
Cerita semangat bunga lily ini menginspirasikan kepada kita, saat kita mempunyai impian, ide, keinginan, atau apapun yang menjadi keyakinan kita untuk diwujudkan, jangan peduli ejekan orang lain! Jangan takut diremehkan oleh orang lain! Tidak perlu menanggapi semua itu dengan emosi, apalagi membenci. Justru sebaliknya, tetaplah yakin dan berjuang dengan segenap kemampuan yang kita miliki. Buktikan semua mimpi bisa menjadi nyata.

Hanya dengan bukti keberhasilan yang mampu kita ciptakan, maka identitas kita, jati diri kita, lambat atau cepat pasti akan diakui dan diterima; selaras dengan pepatah yang menyatakan: "A great pleasure in life is doing what people say, you cannot do." Kepuasan terbesar dalam hidup ini adalah mampu melakukan apa yang dikatakan orang lain tidak dapat kita lakukan.

Cerita 4 Lilin

Tengah malam di sebuah rumah petak di gang yang sempit, 4 lilin menyala.
Suasana begitu hening hingga terdengar percakapan mereka..
Lilin 1 : Aku adalah Lilin Damai. Tapi aku sudah jenuh, setiap hari penghuni rumah ini bertengkar, saling menyalahkan dan saling memaki. Lebih baik aku memadamkan nyala apiku.."
Lalu berhembuslah angin malam dan lilin pertama itu pun padam.
Lilin ke-2 berkata :
"Aku adalah Lilin Kasih.
Tapi aku juga sedih, karena penghuni rumah ini saling membenci satu sama lain. Setiap hari mereka cemberut dan hidup bersama dengan terpaksa.. Lebih baik aku juga memadamkan nyala apiku.."
Angin malam pun bertiup dan padamlah lilin kedua.
Kemudian lilin ke-3 berkata :
"Aku adalah Lilin Iman.
Tapi lihatlah keluarga ini, mereka jarang sekali beribadat. Mereka tidak percaya lagi bahwa Tuhan itu ada. Lebih baik aku juga padam.. "
Lagi-lagi angin berhembus dan lilin ketiga padam.. Tinggallah 1 lilin menyala, yaitu lilin keempat, ia pun bermaksud memadamkan nyala apinya.
Tapi tiba-tiba seorang anak laki-laki kecil penghuni rumah itu terbangun.
Melihat kamarnya hampir gelap gulita, anak itu tiba-tiba merasa sedih dan ketakutan.. Ia pun menangis tersedu-sedu.
Melihat anak yang kecil dan sedih itu, lilin keempat menjadi terharu.
Ia berkata :
" Nak, jangan menangis, masih ada aku.. Aku adalah Lilin Harapan. Selama aku masih menyala, lilin-lilin lainnya juga masih bisa dinyalakan kembali.."
Dengan mata berkaca-kaca anak laki-laki kecil itu meraih lilin keempat.. dan menyalakan kembali ketiga lilin lainnya.
Saudara2ku,
HARAPAN, ada di dalam hati kita.
HARAPAN, tidak bisa diambil oleh siapapun..


Setiap kali Iman kita goyah ;
Damai dan Kasih meninggalkan kita ;
Bertahanlah ;
Ingatlah selama kita masih hidup,
HARAPAN SELALU ADA .

Surat dari Sang Pencipta

Saat kau bangun dipagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara pada AKU, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepadaKU atas sesuatu yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama 15 menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU berfikir engkau akan berbicara pada AKU. tetapi engkau berbicara ke telephone dan menelepon seseorang teman untuk mendengarkan gossip terbaru. AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari.
Yach tidak apa apa, dan aku berharap engkau akan berbicara kepadaAKU saat engkau pulang. setelah engkau pulang, kau menyalakan TV, banyak waktu kau habiskan menikmati TV. kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menikmati makan malammu, tetapi kembali kau tidak berucap pada AKU
Saat kau tidur, KUpikir kau merasa lelah, setelah mengucap selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur tanpa sepatah katapun nama KU kau sebut
Tidak apa-apa, engkau tidak menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar. AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, doa atau ucapan syukur kepadaKU
Apakah salahKU padamu?rizki yang AKU limpahklan, kesehatan yang AKU berikan, harta yang AKU relakan, makanan yang AKU hidangkan, anak-anak yang AKU rahmatkan, apakah itu tidak membuatmu mengingat pada KU?percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap berharap suatu saat engkau akan menyapaKU, memohon perlindunganKU, dan bersujud menghadapKU
yang selalu menyertaimu setiap saat
ALLAH SWT

Perang Melawan Diri Sendiri

Pernahkah Anda merasakan kebosanan?
Pernahkah Anda mengalami perasaan ingin menyerah kalah dengan persoalan yang dihadapi?
Pernahkah Anda mendapati diri merasa malas melakukan apa saja?
Pernahkah Anda menunda sesuatu yang berakibat pekerjaan menumpuk?
Pernahkah Anda merasa tertekan dengan pekerjaan yang sedang dilakukan?
Pernahkah Anda merasa kurang dihargai oleh atasan di pekerjaan?
Pernahkah Anda merasa tidak nyaman sehingga ingin keluar dari pekerjaan? 


Jika Anda menjawab YA dari salah satu pertanyaan di atas, Anda sedang jujur pada diri sendiri. Sebab, kita sebagai manusia, sangat manusiawi jika mengalami masalah. Dan, apa yang disebut di atas, adalah sebagian masalah yang sering dialami oleh manusia dalam interaksi kehidupannya sehari-hari, termasuk di lingkungan pekerjaan.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana masing-masing dari kita menghadapi itu semua? Bagaimana kita bisa survive di tengah tantangan yang terus terjadi? Bagaimana pula, seseorang bisa berhasil mengatasi dan kemudian berhasil naik jenjang kariernya, sementara yang lain biasa-biasa saja? Atau, ada yang berhasil mengatasi berbagai persoalan, namun entah mengapa kariernya tetap jalan di tempat. Ada banyak faktor yang berpengaruh. Tapi, sebagian besar, sebenarnya berujung pangkal pada diri kita sendiri!

Saat stres atau tertekan, siapa yang paling menderita? Diri kita sendiri! Tapi, siapa yang “memutuskan” untuk mengalami perasaan stres dan tertekan? Diri kita sendiri juga! Artinya, kita sendirilah yang menanggung dan sekaligus merasakan akibat dari pilihan yang kita lakukan. Sebaliknya, saat berprestasi, siapa orang yang paling bangga dengan perolehan tersebut? Diri kita sendiri! Dan, siapa yang paling berjasa sehingga kita bisa meraih hasil maksimal itu? Diri kita juga! Artinya, semua bersumber dari diri kita. Diri kitalah kawan sekaligus musuh yang harus dikendalikan. Diri kitalah sumber sukses dan sekaligus kegagalan yang setiap saat selalu siap mengancam. Diri kitalah yang menentukan, karier seperti apakah yang akan kita raih dan wujudkan di masa depan.

Dengan kesadaran penuh bahwa diri kita sendirilah yang bertanggung jawab terhadap raihan prestasi dan karier yang ingin dicapai, sudah saatnya pula kita tegas pada diri sendiri, kita harus siap “berperang” pada hal-hal yang melemahkan diri.

• Musnahkan “tikus-tikus” yang menggerogoti semangat
Kadang, ketika sedang on fire, semangat kita menggebu-gebu untuk bisa menyelesaikan semua pekerjaan dalam waktu singkat. Saat semacam itu, jika terus dipelihara, pasti akan menghasilkan prestasi yang luar biasa. Namun, sering kali, ketika sedang bersemangat, ada saja pikiran yang menyusup dan mengatakan, “Ah… nanti saja, bos belum datang,” atau “Istirahat sejenak dulu, kamu berhak istirahat. Kan kemarin sudah bekerja sangat keras,” atau “Yang lain saja santai-santai, mengapa harus ngebut. Toh besok juga masih ada waktu.” Itulah “tikus-tikus” kecil yang iseng dan sering kali “menjebak” kita dengan “undangan” yang menggoda.

Jika dituruti, memang terasa nyaman dan menyenangkan. Tapi, itu sebenarnya adalah “panggilan” yang akan melenakan. Sebab, kalau kita berhenti sejenak, ibarat mesin diesel yang butuh waktu untuk pemanasan mesin, bisa jadi kita akan kembali melembek daya kerjanya. Padahal, kalau tidak dituruti, akan banyak pekerjaan yang bisa segera kita selesaikan. Karena itu, jika “tikus” tersebut kembali mengganggu, segera musnahkan dengan ketegasan kita untuk memilih tetap bekerja dan berkarya secara maksimal. Atau, jika ingin dituruti—toh memang kadang tubuh kita butuh istirahat—berikan batasan waktu pada diri sendiri.

• Kuatkan daya membal Anda
Seperti bola karet yang dipantulkan dengan sangat keras ke bumi, makin keras makin kuat juga daya membal atau pantulannya. Sekali lagi ini juga soal pilihan. Ketika “terbanting” kala menghadapi ujian karier—diremehkan, kurang dianggap, atau bahkan terkena office politic—kita bisa berdiam diri, meratapi nasib, atau bahkan menyerah kalah. Atau sebaliknya, kita memerangi sikap putus asa dengan terus berjuang, membal kembali laksana bola karet yang dihujamkan dengan keras ke bumi.

Salah satu cara agar daya membal kita kuat adalah dengan mempelajari “sejarah” masa lalu. Mark Katz, PhD, yang mengembangkan sebuah penelitian The Resilience Through the Lifespan Project—atau penelitian ketahanan dalam hidup—menemukan fakta bahwa mereka yang mempelajari masa lalu—saat menghadapi situasi sulit dan berhasil melewatinya—bisa menjadikan pembelajaran itu sebagai bekal untuk “membal” ketika kembali menghadapi masa sulit. Maka, ketika dulu pernah disakiti oleh teman sekantor, jangan putus asa. Bisa jadi pembelajaran masa itu akan bermanfaat di masa ujian lebih besar akan terjadi di kemudian hari.

• Jadilah sang “Terminator”!
Pernah menonton film legendaris yang diperankan oleh Arnold Schwarzenegger berjudul Terminator? Dalam film itu, ada satu kalimat yang jadi andalan: “I’ll be back!” atau “Saya akan kembali!” Dengan setting sebagai robot yang nyaris hancur, makin keras benturan yang dihadapi, makin keras musuh mengganas, makin kuat juga perjuangan yang dilakukan sang Terminator. Kembali dan kembali lagi dengan semangat nan tak kunjung padam.

Semangat kokoh inilah yang sebenarnya juga kita miliki, yang tercermin dari saat kita belajar berjalan atau bersepeda di masa kecil. Semangat lebih ngotot daripada ngotot ini bisa menjadi pembangkit semangat saat karier kita seperti sedang berada di tempat yang begitu-begitu saja. Atau, semangat ini akan menyelamatkan kita ketika ganjalan di karier sedang kita hadapi. Untuk itu, kita harus terus “berperang” dengan keyakinan yang kadang goyah oleh ujian superberat. Atau, kita harus “berperang” dengan godaan yang melemahkan, seperti sifat malas, suka menunda, atau tak menuntaskan pekerjaan. Jika ingin karier berjalan maksimal, jadilah sang Terminator yang tak akan patah semangat sebelum benar-benar hancur.

Nah, perang seperti apa yang akan kita hadapi dalam karier yang sedang kita jalani? Semua kembali kepada kita. Amunisi dan persenjataan yang lengkap sudah ada dalam diri kita. Kini, tinggal keputusan kita mau menggunakan secara maksimal atau tidak, utamanya saat berperang dengan diri sendiri. Anda siap?
Sumber: Andrie Wongso and Team